Sunday, 27 November 2016

JIKA iNGIN MULIA JANGAN MEMBANGGAKAN KEMULIAAN

8. Jika ingin Mulia Jangan membanggakan Kemuliaan. (AL-HIKAM)
Syekh Ibn Athaillah Asy-Syakandari

1. Dunia Ini Hanyalah Tipuan

الاكوان ظاهرهاغرة وباطنهاغبرة فاالنفس تنظر الى ظاهر غرتها والقلب ينظرالى باطن عبرتها
"Segala sesuatu yang tampak di dunia ini adalah tipuan. Sedangkan pada hakikatnya -esensinya adalah pelajaran. Dalam dua hal itu maka nafsu lebih memperhatikan kepada yang tampak sebagai tipuannya, sedangkan hati lihat kepada batinnya sebagai pelajaran yang terkandung di dalamnya."

Secara lahiriah,  dunia ini memang terdiri dari berbagai macam kesenang-an dan keindahan. Keadaannya mempesona sehingga banyak manusia yang tergila-gila. Hawa nafsu ingin menikmati duniawi ini. Maka berbagai cita-cita dan khayalan mengacaukan pikiran. Mereka tak mempedulikan siang dan malam demi mengejar dunia. Mereka rela membanting tulang dan memeras keringat, bahkan kawan menjadi lawan karena memperebutkan dunia.

Namun bagi orang-orang yang bermata hati awas -mereka yang menempuh jalan menuju Allah- sangat berhati-hati dalam menyikapi dunia. orang-orang arif ini melihat bahwa dunia, secara lahiriah merupakan tipuan belaka. Karena itu mereka selalu menahan hawa nafsunya agar tidak tertipu oleh keindahan dan kenikmatan yang ada.

Orang-orang makrifat (orang arif) berpendapat bahwa secara lahiriah, dunia itu adalah musuh Allah dan musuh para wali Allah. Permusuhannya terhadap Allah, dikarenakan dunia dapat memutuskan jalan terhadap para waliNya. Oleh karena itu, Allah tidak melihat kepadanya sejak menciptakannya. Permusuhan terhadap para wali Allah disebabkan ia berhias keindahan dan memperdaya mereka dengan kenikmatan-kenikmatan semu. Jika para penempuh jalan Allah tergoda maka putuslah jalan yang mereka tempuh menuju kepada Kebenaran.

Ketahuilah, para nabi diutus untuk menyeru orang-orang agar mereka mengekang hawa nafsunya terhadap dunia dan agar perhatian nuraninya kepada akhirat. Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. melintas dan menjumpai bangkai kambing. Dia berkata kepada sahabat, "Bukankah kalian melihat kambing itu sudah tak berguna lagi bagi pemiliknya?" Para sahabat menjawab, Benar." Rasulullah saw. Berkata lagi, "Demi Tuhan yang nyawaku berapa di tanganNya, sesungguhnya dunia ini dunia ini Lebih hina bagi Allah azza wajalla daripada bangkai kambing itu."
Seandainya dunia ini menyamai sayap nyamuk di sisi Allah, pasti Dia tidak memberi minum orang kafir seteguk pun. Rasulullah saw. Bersabda,"Dunia ini penjara bagi orang- beriman dan surga bagi orang kafir."

Pada riwayat lain juga ditetangkan bahwa beliau saw. bersabda," Dunia ini  terkutuk dan terkutuklah segala Isi nya, kecuali orang yang mendapatkan penunjuk Allah."

Orang-orang yang menempuh jalan Allah akan lebih mengutamakan negeri yang kekal daripada negeri yang penuh dengan tipuan. Negeri yang kekal itu adalah akherat.

Mereka ini menyadari bahwa dunia-secara lahiriah penuh dengan tipuan dan memperdaya Manusia dengan khayalan-khayalan. Kemudian manusia kehabisan sama sekali setelah luput darinya. Maka dunia menyerupai mimpi mimpi di kala tidur.

Bahkan Ali bin Abi Thalib ra. pernah berpesan kepada Salman Al Farisi melalui suratnya, "Perumpamaan dunia seperti ular yang lunak ketika disentuh. Sedangkan racunnya mematikan. Maka berpalinglah dari sesuatu yang engkau sukai dari dunia ini karena sedikit yang menemanimu darinya. Buanglah pikiran-pikiran terhadapnya setelah engkau yakin akan berpisah dengannya. Jadilah engkau seorang yang paling berhati-hati di saat kau sangat gembira. Sebab pemilik dunia itu setiap merasa gembira,  ia pun mengalami pula sesuatu yang tidak disukainya."

oleh karena itu janganlah memandang dunia secara lahiriah, namun pandanglah secara hakikatnya. Karena pada hakikatnya dunia merupakan pelajaran yang sangat berharga. Sehingga engkau akan berbatu hati dalam melaluinya. Dunia ini, adalah segala sesuatu yang dekat denganmu sebelum mati. Sedang engkau harus ingat terhadap sesuatu yang menyusul di belakangmu setelah mati, yaitu akhirat.

Friday, 28 October 2016

INTISARI KITAB AL-HIKAM

INTISARI KITAB AL-HIKAM

PENDAHULUAN 

Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang. Segala puji-pujian bagi Allah, Pemelihara sekalian alam. Selawat disertai salam  atas yang paling mulia di antara Rasul-rasul, Muhammad Rasul yang Amin, dan atas sekalian keluarga dan sahabat-sahabat baginda saw.


Aku ridha Allah adalah Tuhan, Islam adalah Agama, Nabi Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul, al-Quran adalah Imam, Kaabah adalah Kiblat dan Mukmin adalah saudara.

Wahai Tuhanku! Engkau jualah maksud dan tujuanku dan keredaan Engkau jua yang daku cari. Daku mengharapkan kasih sayang-Mu dan kehampiran-Mu.



Kitab al-Hikam karangan Imam Tajuddin Abu Fadhli Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Athaillah Askandary boleh dianggap sebagai buku teks yang perlu dipelajari oleh orang-orang yang mau mendalami ilmu tauhid / tasawuf serta berjalan pada jalan ke-tauhid-an. Dalamnya mengandung kata-kata hikmah yang boleh dijadikan petunjuk jalan menuju Allah SWT. dan mencapai keridhaan-Nya.

Pada mulanya aku mengenali Kitab al-Hikam pada namanya saja. Apa yang dikatakan sebagian kitab ini merupakan sebuah kitab yang sukar difahami. Hanya sedikit saja sebagian guru-guru yang mampu mengajarkan kitab ini. Anggapan yang telah tertanam dalam fikiranku adalah hanya orang-orang yang khusus saja layak mempelajari kitab tersebut. Oleh yang demikian aku tidak pernah mencoba untuk mempelajarinya.

Kehendak Allah SWT atas segala perkara. Ketika aku mulai memperdalam tentang ke-tauhid-an timbullah minat dan kecenderungan untuk mengetahui isi Kitab al-Hikam. Aku mula mempelajari syarah-syarah kitab tersebut yang boleh didapati di toko-toko buku. Sedikit sekali kefahaman yang terbuka kepadaku. Kemudian aku mempelajari kitab-kitab tasawuf yang aku dapatkan dari berbagai sumber. Berbekal sedikit pengetahuan dalam ilmu tasawuf, Aku mempelajari semula Kitab al-Hikam. Apa yang aku fahamkan itu aku tuliskan sebagai satu cara pembelajaran. 

Apa yang aku pahami dan peroleh dari khazanah al-Hikam ingin aku bagikan dengan saudara-saudara Muslimku. Mudah-mudahan Allah SWT. memberikan taufik dan hidayat kepada kita semua.

Penyusun Syarah al-Hikam ini bukanlah seorang yang alim dalam ilmu tasawuf, apa lagi ilmu fiqih. Oleh karena itu ada baiknya jika saudara-saudara yang membaca kitab ini merujukkan kepada orang yang alim. Jika terdapat perbedaan pendapat di antara isi kitab ini dengan perkataan orang alim, anggaplah kefahaman penyusun yang telah khilaf dan berpeganglah kepada perkataan orang alim. Penyusun memohon maaf atas kekhilafan tersebut. Sekiranya apa yang disampaikan dalam kitab ini adalah benar, maka sesungguhnya kebenaran itu dari Allah SWT. Hanya Dia yang patut menerima pujian. Hanya kepada-Nya kita bersyukur.

Wahai saudara-saudaraku yang aku kasihi.

Ilmu adalah nur. Hati juga nur. Dan, Nur adalah salah satu nama daripada Nama-nama Allah s.w.t. Nur Ilahi, hati dan ilmu berhubung rapat. Hati yang suci bersih menjadi bekas yang sesuai untuk menerima pancaran Nur Ilahi. Hati yang dipenuhi oleh Nur Ilahi mampu menerima Nur Ilmu dari alam ghaib. Nur Ilmu yang dari alam ghaib itu membuka hakikat alam dan hakikat Ketuhanan. Hati yang menerima pengalaman hakikat memancarkan nurnya kepada akal. Akal yang menerima pancaran Nur Hati akan dapat memahami perkara ghaib yang dinafikan oleh akal  biasa. 

Bila hati dan akal sudah beriman hilanglah keresahan pada jiwa dan kekeliruan pada akal. Lahirlah ketenangan yang sejati. Hiduplah nafsu muthmainnah menggerakkan sekalian anggota zahir dan  batin supaya berbakti kepada Allah s.w.t. Jadilah insan itu seorang hamba yang sesuai zahirnya dengan Syariat  dan batinnya dengan kehendak dan lakuan Allah s.w.t. Bila Allah s.w.t memilihnya, maka jadilah dia seorang insan Hamba Rabbani, Khalifah Allah yang diberi tugas khusus dalam melaksanakan kehendak Allah s.w.t di bumi.

Khalifah Allah muncul dalam berbagai-bagai bidang. Mana-mana bidang yang dipimpin oleh Muslim yang bertaraf Khalifah Allah akan menjadi cemerlang dan kaum Muslimin akan mengatasi kaum-kaum lain dalam bidang berkenaan. Khalifah ekonomi akan membawa ekonomi umat Islam mengatasi ekonomi semua kaum lain. Khalifah tentera akan membebaskan umat Islam dari  kaum penjajah dan penindas yang zalim. Khalifah dakwah akan membukakan Islam yang sebenarnya dan membersihkannya dari  bidaah, kekarutan dan kesesatan. Bila semua bidang kehidupan dipimpin oleh Khalifah Muslim maka umat Islam akan menjadi umat yang teratas dalam segala bidang.

Mulailah belajar membentuk hati agar ia menjadi bercahaya dengan Nur Ilahi. Nur Ilahi adalah lentera bagi hati yang akan mengalahkan segala jenis senjata dan segala jenis sistem, walau bagaimana canggih sekali pun. Bila Nur Ilahi sudah memenuhi ruang hati umat Islam maka umat Islam akan menjadi satu padu yang tidak akan dapat dikalahkan oleh siapa pun, dalam bidang apa sekalipun. Insya-Allah !

#Nikmat Gusti Allah SWT. dapat Menghancurkanmu



Takutlah, bila kebaikan Allah yang selalu diberikan kepadamu pada saat dirimu tetap berbuat kemaksiatan kepadaNya, maka semua itu akan menghancurkanmu. Ingatlah firman Nya, "Pada saatnya nanti Aku akan menarik mereka secara berangsur-angsur (kepada kehancuran) secara tidak diketahuinya.

Orang yang berkeluh kesah dan berpikir pendek seringkalimengeluh, "Betapa diriku sudah melakukan perintahNya dan menjauhi laranganNya namun karunia dan nikmat masih belum tercurahkan. Sedangkan mereka yang selalu berbuat durhaka dan Selalu melanggar perintah Nya, namun bergelimang kenikmatan semakin dosa, semakin besar kenikmatan yang diterima."

Jalan pikiran ini seringkali engkau dengar dari mulut orang-orang yang tampaknya tekun menjalankan ibadah, orang awam. Orang awam semacam ini sibuk meng-hitung amalnya dan senantiasa berharap Allah membalas imbalan.

Ia tak pernah segan-segan untuk 'menuntut' yang dianggap Hak nya dari Allah. Padahal jika dipikir secara makrifat, sesungguhnya engkau akan menemukan hikmah di balik kenyataan hidup yang ada ini. yaitu kenyataan di mana orang yang taat, tetapi keadaan kehidupannya sengsara. Sedangkan orang yang ingkar, sepertinya bergelimang kenikmatan.

Gusti Allah memberi karunia dan nikmat kepada orang yang durhaka kepadaNya, bukan berarti Dia sangat sayang kepada hambaNya itu. Kenikmatan yang diberikan itu tak lebih dari sesuatu yang justru mencelakakan. Allah membiarkan orang-orang yang tidak takut terhadap pengguna-an kenikmatan. Sehingga mereka ini berjalan selangkah demi selangkah, dan tergelincirlah ke jurang tanpa bisa keluar lagi. Sebab pencabutan kenikmatan dunia bisa saja dilakukan Gusti Allah secara perlahan-lahan sehingga nyaris tak tampak.

Gusti Allah membiarkan orang durhaka terus berkutat pada dosa-dosanya. Dengan kenikmatan yang ada, justru semakin mempercepat dan mempermudah seseorang untuk berbuat durhaka.
Kalau sudah demikian, maka apakah nikmat  Allah yang mereka terima itu merupakan karunia? Sesungguhnya nikmat yang diterima bagi para pendosa merupakan suatu kebinasaan yang tak disadari.

Adapun orang orang yang menempuh jalan Ma'rifat, ia akan sangat takut ketika menerima karunia (nikmat) dari Allah, ketakutannya karena jangan-jangan nikmat yang diterima itu dapat mencelakakan dan penyebab jauh dari jalan Allah. Karenanya, golongan orang-orang yang bermata hati ini senantiasa bersyukur, Lalu menggunakan kenikmatan itu sebagai media sarana untuk menempuh jalan menuju Allah. Mereka menyadari akan firman Allah, 

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan. Sehingga jika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami akan menyiksa mereka dengan tiba-tiba. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS. Al An'am 44)

“Jika engkau berpisah dengan hari esok, maka tak akan bisa berjumpa kembali. Dan hari ini, tak dapat kau cari di esok hari.”

“Semakin lama, hitungan harimu memang semakin banyak. Tapi pada hakikatnya, setiap hari berkurang terus dan semakin mendekati batas akhir, kematian.”
“Dalam hadits Bukhari, diterangkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw menepuk pundak ibnu umar seraya berkata,”ketika engkau berada di sore hari, jangan menanti datangnya pagi. Ketika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu datangnya petang. Manfaatkanlah sehatmu untuk sakitmu dan pergunakan hidupmu untuk matimu.”
“Yang harus kita lakukan adalah menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah jangan banyak meminta, baik permohonan yang berkenaan dengan rezeki (dunia) maupun berkenaan dengan urusan akherat. Diminta atau tidak, jika Allah menghendaki pastilah terjadi.”
“Setiap nafas yang berhembus darimu, disitulah takdir Allah berlaku kepadamu.”
“Jika aku mau tegak berdiri dan berikhtiar maka Allah maha bijaksana dalam menentukan takdirnya kepadaku.”
“Cermin hati yang terwujud dalam gerak-gerik dan lahiriahmu, maka itulah yang disebut aura. Karena itu engkau mampu membentuk hatimu menjadi jernih, pikiranmu menjadi bersih, setiap langkah yang kau jejakkan dimuka bumi ini niscaya baik. Hidupmu akan bermanfaat bagi sesama.”
“diantara tanda-tanda matinya hati adalah tidak adanya kesedihan setelah terlewatkan kesempatan beramal taat, dan tidak ada penyesalan terhadap suatu pelanggaran yang engkau lakukan.”
“Sebagian ulama berpendapat bahwa matinya hati itu disebabkan tiga sifat, yaitu cinta kepada dunia secara berlebihan, ceroboh dan kurang berzikir, serta menuruti hawa nafsu.”
“Nabi bersabda,”Dunia ini penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir”
“Ali bin Abi Thalib ra, “Perumpamaan dunia seperti ular yang lunak ketika disentuh, sedangkan racunnya mematikan.”
“Carialah sesuatu yang bermanfaat di dunia ini. Adapun yang bermanfaat adalah ilmu dan amal.”
“Ada dua nikmat yang tak satupun makhluk terlepas darinya, dan setiap yang wujud itu itu terjadi dari keduanya, yaitu imjad dan nikmat imdad.
• Imjad adalah kenikmatan yang disebabkan oleh terwujudnya benda-benda atau sesuatu yang pada mulanya tidak ada menjadi ada.
• Imdad adalah kenikmatan yang disebabkan oleh tetap adanya sesuatu yang sudah ada sehingga menjadi lebih sempurna.

Pertolongan Allah ada 2 macam :

1. Pertolongan jasmani
Dimana kita terpenuhi kebutuhan jasmani kita, pertolongan ini diberikan kepada semua makhluk yang melata dimuka bumi.
“Dan tidak ada satu binatang melatapun di muka bumi melainkan Allah jua yang memberi rezekinya, dan ia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat menyimpan rezekinya. Dari semua itu terdapat dalam kitab yang nyata.” (QS. Hud : 6)

2. Pertolongan rohani
Adalah berupa ilmu dan iman yang tertanam di dalam hati
“Nabi Nuh selama ratusan tahun berdakwah namun pengikutnya 70-80 orang saja”
“Pondasi kita adalah keimanan, janganlah terlalu mengharapkan yang manis saja dalam hidup ini karena sering kali yang manis itu membuat sakit perut, dan jangan pula takut terhadap yang pahit karena siapa tahu dalam pahit itu mengandung obat yang manjur.”
“Jangan menuntut terhadap Allah karena keterlambatan terkabulnya permohonanmu, namun tuntutlah dirimu sendiri yang kurang sopan.”

Tanda ikhlas itu ada 3,
Pertama ialah pujian dan celaan orang sama saja bagi dirinya.
Kedua tidak riya' dalam beramal taat ketika ia sedang melaksanakan amal itu.
Ketiga, amal itu dilakukan hanya mengharap pahala akherat.”

#Bukanlah Dzikir Jika Tidak Disertai Perenungan dan penyaksian

"Tidak akan terjadi dzikir jika tidak disertai dengan perenungan dan penglihatan mata hari (kepada Allah)". 

Dzikir itu meliputi amalan-amalan yang tampak seperti shalat, puasa, sedekah, menolong orang lain, berbaik sikap terhadap tetangga atau sesama manusia. Dzikir dapat dikatakan efektif apabila engkau sertai dengan perenungan dan penglihatan kepada Allah. Tentu saja melalui mata batinmu. Sehingga semua amal yang engkau lakukan semata-mata dikerjakan ikhlas karena Allah. Segala tindak-tanduk merasa selalu diawasi oleh Allah.

#Tugas Anggota Lahiriah dan Hati Terhadap Allah

"Allah memperlihatkan DzatNya kepadamu sebelum memintamu untuk bersaksi atas kebesaranNya. Maka anggota lahir mengakad sifatNya dan hati menyatakan sifat keesa-anNya".

Allah Maha Berkehendak dan Maha Tahu. Sebelum Dia menuntut hambaNya untuk beribadah, terlebih dahulu memperlihatkan kebesaran dan keluburanNya. Untuk itu setiap anggota lahiriah-anggota badan mempunyai tugas sendiri-sendiri. Semua tugas itu dalam rangka beribadah kepadaNya.

Engkau dikaruniai alat tubuh yang sempurna, mulai mata. telinga, kaki, tangan, indera perasa, indera pencium, dan indra peraba, semua itu diciptakan Allah karena mempunyai tujuan dan tugas masing-masing.

Dirimu memiliki lisan (mulut) mempunyai kewajiban untuk melaksanakan tugas beribadah, misalnya mengucapkan dua kalimat syahadat, mengucapkan takbir, membaca surat Al Fatihah, membaca dzikir dzikir lisani, membaca tasbih, mengucapkan dan menjawab salam, melakukan amar makruf dan nahi munkar, mengajar orang yang tidak mengerti, memberi nasihat, memimpin orang sesat, memberi kesaksian yang benar dan membenarkan perkataan orang.

Tugas telinga dalam rangka beribadah kepada Allah misalnya mendengarkan sesuatu yang baik, mendengarkan nasihat agama, mendengarkan bacaan imam ketika shalat dan sebagainya. Jangan kemudian telinga digunakan untuk mendengarkan sesuatu yang haram. Perkara haram yang harus dihindari misalnya mendengarkan masalah-masalah yang berkaitan dengan kekufuran, bid'ah dan sejenismya, mendengarkan rahasia  lain, mendengarkan suara perempuan yang menimbulkan syahwat, dan sebagainya.

Adapun tugas mata dalam rangka beribadah misalnya melihat Al Quran dan kitab kitab ilmu sewaktu harus mempelajari isinya agar dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, menyaksikan kebesaran Allah melalui makhluk Nya, dan sebagainya. Jangan kemudian mata engkau jadikan sebagai sarana untuk memandang sesuatu yang menyenangkan syahwat mu.

Selain itu, ada pula organ tubuh yang diciptakan Allah sebagai Indra perasa, yaitu lidah. Hendaknya engkau dapat memahami untuk apakah lidah diciptakan. Sebagai manifestasi ibadah kepada Allah, maka gunakanlah lidahku untuk sesuatu yang baik, misalnya mencicipi sesuatu. Dengan demikian engkau akan bisa bersyukur manakala merasakan nikmat yang diberikan Allah kepada mu. Jangan kemudian lidahmu engkau gunakan untuk mencicipi minuman keras atau racun, memakan makanan yang diharamkan dan sebagainya.

Allah juga menciptakan Indra penciuman yang disebut hidung. Gunakanlah dalam rangka beribadah. Tugas indra kita ini misalnya untuk membedakan  sesuatu yang halal dan yang haram, untuk membau mana yang racun dan mana yang tidak, untuk membau sesuatu yang bermanfaat dan sebagainya.

Tubuhmu dilengkapi dengan sepasang tangan untuk menunaikan tugas beribadah kepada Allah. Melalui tanganmu itu engkau harus bekerja mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan hidup. Dengan nafkah yang kau dapatkan dapat dimanfaatkan untuk jalan ibadah misalnya infaq, menafkahi anak dan istri, menyantuni yatim piatu dan untuk biaya menegakkan agama Allah. Gunakan pula tanganmu membimbing orang yang menbutuhkan Pertolongan, gunakan untuk membasuh wajah ketika berwudiu dan masih banyak hal-hal lainnya yang dapat engkau lakukan dengan tanganmu.

Adapun tugas kaki adaiah untuk berjalan mendatangi masjid menunaikan shalat berjamaah, melaksanakan thawaf wajib dan sa'i, menghadiri pertemuan yang membicarakan hukum-hukum Allah, menghadiri undangan, menghadiri majelis ta'lim dan sebagainya. Janganlah kaki engkau gunakan untuk mendatangi tempat-tempat maksiat.

Tugas-tugas Hati

Ada dua macam tugas hati dalam beribadah kepada Allah, yaitu yang telah disepakati wajib nya dan masih diperselihkan wajibnya.

Adapun perbuatan hati yang termasuk wajib dan telah disepakati adalah :

1. Ikhlas dalam beramal.

2. Mahabbah (Cinta) kepada Allah dan Rasulnya.

3. Sabar dalam menerima ujian

4. Takut kepada Allah SWT.

5. Mempunyai harapan yang kuat kepadaNya

6. Memantapkan niat untuk beribadah, 

7. Membenarkan sesuatu yang sudah pasti kebenarannya.

Adapun yang masih diperselisihkan wajibnya antara lain Ridla dalam menerima segala ketentuan Allah dan khusuk dalam shalat.

Sedangkan perbuatan hati yang harus dihindari karena dianggap haram adalah : Takabur (sombong), riya' (pamer) dalam beramal, ujub (berbangga diri), ghaflah (lalai), Hasud (dengki), nifak (kufur dan maksiat) merasa aman dari hukuman Allah, berputus asa dalam mengharap rahmatNya, merasa gembira jika melihat saudara sesama muslim yang kesusahan, mengharap kecelakan atau musibah bagi orang muslim, dan mempunyai keinginan untuk mengerjakan kemaksiatan.


Saturday, 12 March 2016

KISAH SAHABAT HUDZAIFAH BIN YAMAN YANG MENCANDAI UMAR BIN KHATTAB



Kisah Hudzaifah bin Yaman yang Mencandai Umar bin Khattab




Diriwayatkan dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia bertemu Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu ‘anhu. Umar bertanya, “Bagaimana dirimu, wahai Hudzaifah?” Hudzaifah menjawab, “Aku mencintai fitnah, membenci kebenaran, shalat tanpa wudhu, dan di bumi ini aku memiliki sesuatu yang tidak Allah miliki di langit.”
Umar marah besar. Dia mendatangi Ali bin Abi ThalibRadhiyallahu ‘anhu. Ali bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, ada bekas marah di wajahmu.” Umar lalu menceritakan ucapan Hudzaifah. Ali berkata, “Dia benar, wahai Amirul Mukminin. Dia mencintai fitnah, maksudnya anak-anak dan wanita. Dia membenci kebenaran, yakni kematian. Dia shalat tanpa wudhu, maksudnya ia bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam setiap waktu tanpa wudhu. Dia memiliki sesuatu di bumi yang tidak dimiliki oleh Allah di langit, yakni beristri dan beranak, sementara Allah tidak beristri dan beranak.”
Umar berkata, “Kamu benar dan baik, wahai Abu Hasan. Kamu telah menghilangkan apa yang ada di hatiku kepada Hudzaifah.”
***
Sungguh indah kisah di atas, dimana para shahabat mencandai shahabat yang lain. Tidaklah benar bahwa para shahabat tidak pernah bercanda, buktinya adalah kisah di atas. Namun candaan yang dimaksud adalah bukan suatu candaan yang bathil. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Celakalah bagi orang yangberbicara dengan satu pembicaraan agar menjadikan kaumnya tertawa, maka ia berdusta, celakalah baginya, celakalah baginya.”[1]
Allah Ta’ala berfirman“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”[2] Supaya pembaca tidak merasa bingung, akan saya jelaskan sedikit dalil yang menjadi dasar perkataan Hudzaifah.
Penjelasan bahwa anak-anak menjadi salah satu fitnah adalah dalam firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dananak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati / waspadalah kalian dari mereka.”[3]
Dan merupakan kebenaran adalah kematian. AllahTa’ala berfirman, “Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian[4] Kemudian dalil tegas bahwa Allah tidak memilik istri dan anak adalah firman AllahTa’ala“(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”[5]
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah shahabat di atas. Karena tidak ada pengikut RasulullahShallallahu ‘alaihi wa Sallam yang paling baik selain mereka dan tidak ada generasi yang paling mulia selain mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah”.[6]

[1] (Diriwatkan oleh At-Tirmidzi, hadits hasan)
[2] Al-Baqarah ayat 42
[3] At-Taghabun ayat 14
[4] ‘Ali-Imran ayat 185
[5] Al-Ikhlash ayat 3
[6] At-taubah ayat 100

Saturday, 21 February 2015

NASEHAT HADROTUS SYEIKH HASYIM ASY'ARY UNTUK PARA SANTRI

10 Nasehat Hadhrotus Syeikh Hasyim Asy'ary
Untuk para Santri
Dalam Kitab-nya Adabul ‘Alim wal Muta’allim, KH. M. Hasyim Asy’ari merangkum etika-etika santri atau pelajar sebagaimana berikut:

Pertama, seorang santri hendaknya membersihkan hatinya dari segala hal yang dapat mengotorinya seperti dendam, dengki, keyakinan yang sesat dan perangai yang buruk.
Hal itu dimaksudkan agar hati mudah untuk mendapatkan ilmu, menghafalkannya, mengetahui permasalahan-permasalahan yang rumit dan memahaminya.

Kedua, hendaknya memiliki niat yang baik dalam mencari ilmu, yaitu dengan bermaksud mendapatkan ridho Allah, mengamalkan ilmu, menghidupkan syariah Islam, menerangi hati dan mengindahkannya dan mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai berniat hanya ingin mendapatkan kepentingan duniawi seperti mendapatkan kepemimpinan, pangkat, dan harta atau menyombongkan diri di hadapan orang atau bahkan agar orang lain hormat.

Ketiga, hendaknya segera mempergunakan masa muda dan umurnya untuk memperoleh ilmu, tanpa terpedaya oleh rayuan “menunda-nunda” dan “berangan-angan panjang”, sebab setiap detik yang terlewatkan dari umur tidak akan tergantikan. Seorang santri hendaknya memutus sebisanya urusan-urusan yang menyibukkan dan menghalang-halangi sempurnanya belajar dan kuatnya kesungguhan dan keseriusan menghasilkan ilmu, karena semua itu merupakan faktor-faktor penghalang mencari ilmu.

Keempat, menerima sandang pangan apa adanya sebab kesabaran akan ke-serba kekurangan hidup, akan mendatangkan ilmu yang luas, kefokusan hati dari angan-angan yang bermacam-macam dan hikmah hikmah yang terpancar dari sumbernya.
Imam As-Syafi’i Ra berkata, tidak akan bahagia orang yang mencari ilmu disertai tinggi hati dan kemewahan hidup. Tetapi yang berbahagia adalah orang yang mencari ilmu disertai rendah hati, kesulitan hidup dan khidmah pada ulama.

Kelima, pandai membagi waktu dan memanfaatkan sisa umur yang paling berharga itu. Waktu yang paling baik untuk hafalan adalah waktu sahur, untuk pendalaman pagi buta, untuk menulis tengah hari, dan untuk belajar dan mengulangi pelajaran waktu malam. Sedangkan tempat yang paling baik untuk menghafal adalah kamar dan tempat-tempat yang jauh dari gangguan. Tidak baik melakukan hafalan di depan tanaman, tumbuhan, sungai dan tempat yang ramai.

Keenam, makan dan minum sedikit. Kenyang hanya akan mencegah ibadah dan bikin badan berat untuk belajar. Di antara manfaat makan sedikit adalah badan sehat dan tercegah dari penyakit yang di akibatkan oleh banyak makan dan minum, seperti ungkapan syair yang artinya:
“Sesungguhnya penyakit yang paling banyak engkau ketahui berasal dari makanan atau minuman.”
Hati dikatakan sehat bila bersih dari kesewenang-wenangan dan kesombongan. Dan tidak seorangpun dari para wali, imam dan ulama pilihan memiliki sifat atau disifati atau dipuji dengan banyak makannya. Yang dipuji banyak makannya adalah binatang yang tidak memiliki akal dan hanya dipersiapkan untuk kerja.

Ketujuh, bersikap wara’ (mejauhi perkara yang syubhat ‘tidak jelas ‘ halal haramnya) dan berhati-hati dalam segala hal. Memilih barang yang halal seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan semua kebutuhan hidup supaya hatinya terang, dan mudah menerima cahaya ilmu dan kemanfaatannya. Hendaknya seorang santri menggunakan hukum-hukum keringanan (rukhsoh) pada tempatnya, yaitu ketika ada kebutuhan dan sebab yang memperbolehkan. Sesungguhnya Allah senang bila hukum rukhsohnya dilakukan, seperti senangnya Allah bila hukum ‘azimahnya (hukum sebelum muncul ada sebab rukhsoh) dikerjakan.

Kedelapan, meminimalisir penggunaan makanan yang menjadi penyebab bebalnya otak dan lemahnya panca indera seperti buah apel yang asam, buncis dan cuka. Begitu juga dengan makanan yang dapat memperbanyak dahak (balgham) yang memperlambat kinerja otak dan memperberat tubuh seperti susu dan ikan yang berlebihan. Hendaknya seorang santri menjauhi hal-hal yang menyebabkan lupa seperti makan makanan sisa tikus, membaca tulisan di nisan kuburan, masuk di antara dua unta yang beriringan dan membuang kutu hidup-hidup.

Kesembilan, meminimalisir tidur selama tidak berefek bahaya pada kondisi tubuh dan kecerdasaan otak. Tidak menambah jam tidur dalam sehari semalam lebih dari delapan jam. Boleh kurang dari itu, asalkan kondisi tubuh cukup kuat. Tidak masalah mengistirahatkan tubuh, hati, pikiran dan mata bila telah capek dan terasa lemah dengan pergi bersenang-senang ke tempat-tempat rekreasi sekiranya dengan itu kondisi diri dapat kembali (fresh).

Kesepuluh, meninggalkan pergaulan karena hal itu merupakan hal terpenting yang seyogyanya di lakukan pencari ilmu, terutama pergaulan dengan lain jenis dan ketika pergaulan lebih banyak-main-mainnya dan tidak mendewasakan pikiran. Watak manusia itu seperti pencuri ulung (meniru perilaku orang lain dengan cepat) dan efek pergaulan adalah ketersia-siaan umur tanpa guna dan hilang agama bila bergaul dengan orang yang bukan ahli agama. Jika seorang pelajar butuh orang lain yang bisa dia temani, maka hendaknya dia jadi teman yang baik, kuat agamanya, bertaqwa, wara ‘, bersih hatinya, banyak kebaikannya, baik harga dirinya (muru’ah), dan tidak banyak bersengketa: bila teman tersebut lupa dia ingatkan dan bila sudah sadar maka dia tolong.

(Diterjemahkan dari kitab “Adabul ‘Alim wal Muta’ allim” karya KH. M. Asy’ari)

SUKSES RUHANI (Ibnu Athaillah As-Sakandary.RA)

:: SUKSES RUHANI ::
”Diantara tanda-tanda peneguhan Allah Azza wa-Jalla kepadamu dalam suatu hal, adalah peneguhanNya padamu di dalamnya disertai keberhasilan.”
Dalam soal ibadah kita butuh kemantapan dan peneguhan yang kokoh. Namun peneguhan itu tetap datang dari Allah Azza wa-Jalla, dan karena itu kita perlu mengenal apakah posisi kita sedang diberi keteguhan oleh Allah Azza wa-Jalla dalam suatu hal, khususnya ibadah, atau amaliyah lainnya?
Tanda-tanda peneguhan itulah yang perlu kita cermati. Diantaranya adalah keberhasilan anda dalam membuahkan konsistensi terhadap suatu perkara tersebut. Buah dari keteguhan dalam menempuh Jalan Allah adalah akhlak dan adab yang mulia.
Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily ra, mengatakan, “Faidahnya karomah itu adalah pengenalan rasa yaqin dari Allah Swt melalui Ilmu, Qudrat dan IradatNya serta Sifat-sifat AzaliNya yang terpadu, tidak sama sekali terpisah, dan perkara yang tidak sama sekali terpisah. Seakan-akan satu sifat yang tunggal yang berdiri dengan Dzat Yang Satu, yang menjadi sama antara orang yang mengenal Allah swt melalui NurNya, atau mengenal Allah Swt melalui TindakanNya.”
Buah dari karomah adalah Istiqomah dan yaqin.
Buah dari syukur adalah bertambahnya nikmat, buah dari nikmat adalah bertambah syukurnya.
Buah dari sabar adalah ridho,
Buah dari memandang anugerahNya adalah amal ibadah.
Buah dari kesadaran dosa adalah taubat, dan taubat sesungguhnya buah dari ampunanNya.
Buah dari ma’rifat adalah terus memandangNya (musyahadah), sedangkan buah musyahadah adalah tidak memandang kecuali hanya padaNya. Ia fana’, lalu ma’rifat, lalu mahabbah, lalu berbuah untuk Baqa’ Billah Rahmatan lil’Alamin.
Amaliyah mu’min sejati selalu membuahkan tiga hal:
Amaliyah Islam, membuahkan ibadah lahiriyah syar’iyyah, termaujud dalam taubat, taqwa dan istiqomahnya.
Amaliyah Iman membuahkan ubudiyah bathiniyah, penataan batin dan periasan akhlaq batin yang indah, dan termaujud dalam sikap batin yang benar, ikhlas dan ketenangan.
Amaliyah Ihsan membuahkan ‘abudah rahasia batin, dalam maujud muroqobah, musyahadah dan ma’rifatnya.

ANTARA CAHAYA DAN WACANA (Ibnu Athaillah As-Sakandary, RA)

:: Antara Cahaya dan Wacana ::
”Siapapun yang mengungkapkan hamparan kebajikan dari dirinya, maka rasa buruk pada dirinya di hadapan Tuhannya akan membungkamnya. Dan siapa yang mengungkapkan hamparan kebajikan Allah Swt kepadanya, maka keburukan yang dilakukan tidak membuatnya terbungkam.”
Maksudnya, siapa yang memasuki hadirat Allah Swt, lalu masih memandang dirinya sendiri, ketika akan mengungkapkan apa yang berlaku padanya pada khalayak, berupa karomah-karomah dan yang lainnya, maka akan muncul panggilan dari alam hakikat: ”Hai! Anda menyebutkan sejumlah karomah-karomah? Sedangkan anda tidak menyebutkan kehinaan anda?”.
Lalu orang ini akan berhenti, bahkan ia lari dari alam yang ia pandang, berganti gelisah dan tercekam, berganti dengan ketersembunyian yang senyap, menutup diri, dan inilah kondisi yang dialami oleh kaum yang berada di maqom zuhud, maqom ahli ibadah dan ahli wirid. Karena ia belum meraih kema’rifatan yang hakiki, sehingga masih muncul keakuan dan ego.
Sedangkan orang yang memandang hamparan kebajikan itu dari Allah swt, mengamalkan apa yang telah dilimpahkan padanya, kembali kepadaNya, dan segala hal yang dianugerahkan olehNya, maka itulah saatnya ia mengungkapkan melalui bahasa lisannya, menjelaskan apa yang dari Tuhannya. Ia tidak tercekam dan segan ketika mengungkapkan, tidak peduli apakah ia dipuji maupun dihina. Bahkan ia tidak melihat dirinya, ia hanya memandang pengetahuan dari Allah azza wa-Jalla yang tampak jelas di depan matanya. Demikian doijelaskan oleh Syeikh Zarruq dalam syarah Al-Hikam.
Pengungkapan wacana kebenaran bisa dengan ungkapan haki8kat, namun belum tentu hakikat itu dialami oleh yang mengungkapkan. Itulah kondisi dalam diri para Ulama, para pemula dan penempuh. Namun ia tetap bisa memberikan makna faedah dan pengetahuan. Walau[pun ia sendiri belum sampai pada hakikat itu.
Namun ada yang telah sampai ke wilayah hakikat dan kemandirian ruhani, itulah kondisi kaum ahli ma’rifat yang telah meraih keparipurnaan, dan ia mampu memberikan kekuatan pengaruh dalam jiwa ummat.
Inilah yang dikatakan oleh Ibnu Athaillah as-Sakandary selanjutnya:
”Cahaya para ahli hakikat telah mendahului ucapan-ucapannya, maka sejauhmana pencerahan yang diterima, sejauh itu pula ungkapan muncul”
Hikmah-hikmah yang muncul dari ahli hakikat kartena telah didahului oleh limpahan Cahaya dari Allah swt, bukan sebaliknya, yang dilakukan oleh para Ulama, beraksioma, berlogika baru menjurus pada pencarian cahaya.
Kaum ’arifin senantiasa merasukkan cahaya itu pada para pendengar hikmahnya, karena apa yang berada dalam qalbu, akan menyambung dengan qalbu-qalbu pendengarnya.
Bila hubungan dari hati ke hati yang disampaikan oleh ahli hakikat tidak sampai pada hati seseorang, maka hati orang itu pasti sedang tergelapkan, tersesatkan, seperti hati orang-orang kafir dan munafiq, ketika disampaikan cahaya hakikat mereka menolak, bahkan menentangnya. Hingga digambarkan mereka ini sampai menutup telinganya dengan jari-jarinya ketika ada kilatan-kilatan cahaya dari Allah Swt. Mereka menutup telinga hatinya.
Jari-jari dari tangan-tangan nafsunya bergerak untuk menutup diri dari hakikat-hakikat Ilahiyah. Bisa karena gengsi dan harga diri, bisa karena takabur dan ta’jub pada diri sendiri, bisa karena takut jika hakikat kebenaran itu merasuki hatinya, ia akan kehilangan kekuasaan, nama besar dan simbol-simbolnya. Dan bahkan ia menutup telinga hatinya karena iri dan dengki. Na’udzubillah min Dzaalik.

Thursday, 10 January 2013

PERINGATAN MAULID NABI : AKTIFITAS UMAT MEMBACA SIRAH NABI SAW.


PERINGATAN MAULID NABI : AKTIFITAS UMAT MEMBACA SIRAH NABI SAW.

==========
Istilah jahiliyah tidaklah tepat diartikan bodoh, karena sesungguhnya orang arab pada waktu itu telah mengalami kemajuan yang pesat dalam berbagai bidang, diantaranya mereka telah mampu melakukan bedah caesar, menghitung dengan metode al-jabar (cikal bakal matematika).

Mereka disebut jahiliyyah karena mereka memiliki fanatik kesukuan yang berlebihan, sehingga terkadang menghilangkan kejernian otak mereka. Para orientalis sering menyebut-nyebut nenek moyang arab sebagai suku jahliyyah yang mereka artikan sebagai suku yang bodoh hanya supaya umat Islam yang nota bene syari’atnya berasal dari arab tidak mempunyai pengaruh di dunia.
Jadilah umat Islam yang mempunyai pendirian dalam memegang teguh ajarannya (berprinsip), seperti air laut yang akan tetap asin meskipun air sungai dan air hujan selalu tercurah ke dalamnya. Jadilah orang yang berpengaruh, jangan yang terpengaruh !

Rasulullah Saw. tidak bisa baca tulis ? Memang benar. Namun bukan karena saking bodohnya Beliau, bahkan karena Beliau tidak membutuhkan huruf. Sebab ilmu orang yang masih membutuhkan huruf adalah terbatas, karena masih banyak hal-hal di dunia ini yang tidak terjangkau dengan huruf.
Contohnya seperti ketika pakaian kita sobek maka kita akan berpikir bahwa yang baik adalah di jahit, sedangkan jika bolong maka yang baik adalah ditambal, padahal pakaian kita tidak pernah berkata (dengan huruf-huruf tentunya) bahwa jia ia sobek maka tambalah, dan jika ia bolong maka tambalah. Hal ini membuktikan huruf tidak punya peran dalam hal ini.

Adapun Nabi Saw. adalah seseorang yang langsung mendapatkan kalimatullah, sehingga berpengathuan sangat luas. Kita jangan mengecilkan ilmu yang diberikan Allah Swt pada kita karena satu ayat yang berbunyi; wama utitum minal ilmi illa qolila’, tidaklah aku memberikan ilmu (pengetahuan) kepada kalian kecuali hanya sedikit saja.

Sebab ‘sedikit’ (qolil) itu dari sudut pandang ilmu Allah, adapun bagi makhluk-Nya; manusia, jin dan yang lainnya, ilmu yang sedikit yang telah Allah berikan itu tidak terbatas. Analoginya sederhana saja, laut jika di teliti, akan melahirkan ilmu kelautan hingga ratusan doktor-doktor ilmu kelautan. Ilmu tentang kelautan tersebut tidak akan pernah habis, terus menerus. Itu contoh kecil saja. Anda bisa mengembangkan pada yang lainnya.

Di dalam surat al-Kahfi : 109 dijelaskan bahwa seandainya lautan dijadikan tinta, niscaya air laut tersebut akan habis untuk menulis kalimat-kalimat (ilmu-ilmu) Allah sebelum kalimat-kalimat Allah tersebut habis. Maksud lautan di sini bukan hanya satu lautan , tetapi tujuh lautan.

Mengapa para sahabat tidak melakukan aktifitas membaca maulid Nabi Saw. seperti zaman sekarang ? Karena hakikatnya mereka selalu melakukan maulidan, sebab mereka selalu melihat Rasulullah saw., menghadiri shalatnya, menyaksikan secara langsung kepribadiannya yang sangat luhur, dll. Sedangkan semua ini adalah tujuan kita membaca maulid, yakni supaya kita dapat menghadirkan kepribadian Nabi saw. dalam alam pikiran kita.  (Min maqolat Maulana Al Habib Luthfi bin Yahya). (Tsi)

sumber : habiblutfiyahya.net/

JEJAK SEJARAH MURSYID THORIQOH AT-TIJANI SYEKH MUHAMMAD BIN YUSUF

  "Jejak Histori Syekh Muhammad bin Yusuf sukodono - Ampel Surabaya, abahny a KH Ubaid dan KH Zaid, salah satu pembawa Thoriqoh At-Tija...