Friday, 31 March 2017

KEUTAMAAN ADAB DAN AKHLAQ BAGI PARA PENCARI ILMU

Keutamaan Adab dan Akhlaq bagi Para Salik (Pencari Jalan Ma'rifatullah)



التصوف كله أدب ، لكل وقت أدب، ولكل حال أدب، ولكل مقام أدب ، فمن لازم الأدب بلغ مبلغ الرجال ، ومن حرم الأدب فهو بعيد من حيث يظن القرب ، مردود من حيث يرجو الوصول

Tasawwuf adalah semuanya adab, setiap waktu adab, setiap keadaan adalah adab & untuk setiap kedudukan adalah adab.

Maka siapa orang yang melazimi adab, dia akan sampai pada kedudukan orang-orang pilihan-Nya.

Dan siapa orang yang diharamkan atasnya adab, maka dia hakekatnya jauh dari-Nya walaupun dia menyangka bahwa dirinya dekat, dan tertolak sekiranya dia mengharapkan sampai tersambung disisi-Nya.


قال ذو النُّون المصري رحمه الله :
إذا خرج المريد عن استعمال الأدب فإنه يرجع من حيث جاء

Berkata Dzun-Nuun Al-Misrii Ra:
"Jika seorang murid yang menginginkan sampai kepada-Nya keluar dari pem-praktek-kan adab, maka sesungguhnya dia telah kembali walaupun dia datang / memulai ( maka tidak akan bertambah sedikit-pun disisi-Nya )"
٠
قال الحكماء :
- من لم يتأدب لوقت فوقته مقت.
- من حبسه النسب أطلقه الأدب اي من لم يكن من آل البيت منسوبا
فأدبه  يكفيه لرفعت مقامه عند الله وعند خلقه.
- من قل أدبه كثر شغبه.

Berkata para ahli hikmah :
- Siapa orang yang tidak ber-adab pada satu waktu, maka hakekatnya waktunya adalah kemurkaan.
- Siapa orang yang bukan bernasab kepada Nabi, maka dengan sebab adab kedudukannya akan terangkat disisi-Nya dan disisi makhluk-Nya.
- Siapa orang yang sedikit adabnya, niscaya akan banyak fitnah & pertikaiannya


Di dalam Al Qur’an diterangkan bahwa sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Ilmu merupakan sarana utama menuju kebahagiaan abadi. Ilmu merupakan pondasi utama sebelum berkata-kata dan berbuat. Dengan ilmu, manusia dapat memiliki peradaban dan kebudayaan. Dengan ilmu, manusia dapat memperoleh kehidupan dunia, dan dengan ilmu pula, manusia menggapai kehidupan akhirat.
Baik atau buruknya suatu ilmu, bukan karena ilmunya, melainkan karena niat dan tujuan si pemiliki ilmu. Ibarat pisau, tergantung siapa yang memilikinya. Jika pisau dimiliki oleh orang jahat, maka pisau itu bisa digunakan untuk membunuh, merampok atau mencuri. Tetapi jika dimiliki oleh orang baik, maka pisau itu bisa digunakan untuk memotong hewan qurban, mengiris bawang atau membelah ikan.  
Di bawah ini merupakan metode yang baik dalam mencari/menuntut ilmu, agar ilmu yang kita miliki bermanfaat dan mendapat barokah dari Allah
1.   Awali dengan niat yang benar, baik dan ikhlas. Niatkan bahwa mencari/menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan ridho Allah. Niatkan bahwa ilmu yang dimiliki akan digunakan untuk kebaikan, bukan untuk mengejar dunia semata. Niatkan bahwa dengan ilmu tersebut, kita berjuang di jalan Allah. Memohonlah kepada Allah agar ilmu yang kita miliki bermanfaat dunia-akhirat. Memohonlah kepada Allah agar kita terhindar dari ilmu/ajaran sesat dan menyesatkan.
2.   Selalu minta restu dan ridho orangtua. Mintalah dengan kerendahan hati dan santun kepada orangtua untuk mendoakan agar kita selamat dunia-akhirat.
3.   Berhati-hati dalam memilih ilmu. Pelajarilah ilmu agama sebagai landasan hidup. Pelajarilah ilmu tentang aqidah, karena aqidah yang benar merupakan pondasi keimanan. Pelajarilah ilmu tentang akhlak, karena akhlak merupakan cermin dari suasana hati. Ingatlah... bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW diutus ke dunia untuk memperbaiki akhlak manusia. Pelajarilah ilmu fiqh agar tata cara ibadah kita sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Pelajarilah ilmu-ilmu duniawi sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah dan berbuat kebaikan.
4.   Belajar kepada guru yang terpercaya akan keilmuannya dan agamanya. Cara ini lebih cepat dan lebih meyakinkan daripada belajar tanpa guru. Dengan belajar kepada guru akan memungkinkan diskusi, tanya-jawab dan timbal-balik antara murid dan guru.
5.   Belajar kepada alam. Gunakanlah akal untuk memikirkan alam semesta ini dan kejadian-kejadiannya, dalam rangka meneguhkan/menguatkan keyakinan kita terhadap kekuasaan dan keagunggan Allah.
6.   Belajar dari pengalaman dan ujian hidup. Jika hidup dan kehidupan ini kita jalani dengan kesholehan hati, maka setiap pengalaman dan ujian/cobaan dapat kita jadikan pelajaran. Sabar dan rasa syukur kepada Allah merupakan dua aspek penting dalam mengambil atau memetik pelajaran dari pengalaman dan ujian hidup.
Jangan menjadi manusia yang berilmu (pintar) tetapi zolim. Dan jangan pula menjadi manusia yang taat beribadah (sholeh) tapi bodoh. Ilmu tanpa didasari dengan keimanan, maka dengan ilmu tersebut manusia akan berbuat kerusakan dan kezoliman. Iman tanpa didasari dengan ilmu, maka keimanannya bersifat semu, hanya sebuah khayalan dan sugesti belaka, begitupun ibadahnya hanya bersifat ikut-ikutan. Oleh karena itu, raihlah kesuksesan dengan 2 sayap, iman dan ilmu. Insya Allah... kesuksesan yang kita raih bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.
Menuntut ilmu tidaklah mudah, tetapi juga tidak sulit. Dalam menuntut ilmu dibutuhkan keyakinan, kesabaran, kesungguhan, dan pengorbanan. Kita harus meyakini bahwa kita pasti bisa memahami suatu ilmu/pelajaran. Kita harus bersabar, karena untuk memahami suatu ilmu sampai tuntas memerlukan waktu yang lama. Kita harus sungguh-sungguh, karena hanya dengan kesungguhan suatu ilmu dapat kita miliki. Kita harus mempunyai jiwa berkorban, karena untuk meraih ilmu perlu tenaga dan biaya.
Beberapa hal yang dapat memperoleh kemudahan dalam menuntut ilmu:
1.   taat beribadah, rajin bangun malam untuk sholat tahajud dan tafakur.
2.   tidak berbuat maksiat
3.   memuliakan/menghormati guru (adab murid kepada guru)
4.   memuliakan/menghormati sahabat (adab murid kepada sesama murid)
5.   memuliakan/menghormati kitab/buku (adab murid kepada pelajaran)
6.   sering bergaul/berdiskusi dengan ulama (memuliakan ulama)
7.   membiarkan diri lapar ketika sedang belajar (rajin berpuasa)
Adab murid kepada guru
·      menghormati dan memuliakan guru dan keluarganya dengan tulus dan ikhlas
·      tunduk dan patuh terhadap semua perintah dan nasihat guru
·      jujur dan setia bersama guru
·      bersikap rendah hati, lembut dan santun kepada guru
·      hendaknya memaafkan guru ketika beliau melakukan suatu kesalahan
·      tidak menjelek-jelekan dan tidak memfitnah guru
·      tidak menghianati dan tidak menyakiti hati guru
·      berusaha melayani guru dengan sebaik-baiknya
·      selalu berusaha menyenangkan hati guru
·      memanggil guru dengan panggilan yang disukainya
·      berusaha menyukai apa yang disukai oleh guru
·      membiasakan diri memberikan hadiah kepada guru dan keluarganya sebagai tanda penghormatan kepada mereka
·      tidak berjalan di depan guru ketika berjalan bersamanya
·      tidak terbahak-bahak di depan guru
·      tidak meninggikan suara ketika berbicara dengan guru
·      selalu duduk dalam sikap sopan
·      berusaha keras ( jihad ) dan tekad membuat kemajuan bersama guru
Keberhasilan dan kemudahan dalam proses menuntut ilmu terletak pada kelakuan baik (adab) si penuntut ilmu, terutama adab kepada guru. Sayyidina Ali rodhiallu’anhu berkata, "aku ibarat budak dari orang yang mengajarkanku walaupun hanya satu huruf ". Perkataan Ali ini merupakan ungkapan bahwa begitu besar penghormatan beliau kepada guru.
Khalifah Harun Ar Rasyid pernah mengirimkan putranya untuk belajar kepada syekh burhanuddin. Suatu saat, ketika khalifah berkunjung untuk menemui putranya yang sedang belajar, khalifah melihat putranya itu sedang menuangkan air wudhu untuk syekh. Lalu khalifah berkata kepada putranya, "Wahai anakku, kenapa engkau menggunakan tangan kananmu untuk menuangkan air sementara tangan kirimu kau biarkan diam. Gunakanlah kedua tanganmu, yang satu untuk menuangkan air dan yang satu lagi untuk membasuh kaki gurumu." Subhanallah... begitu tegas khalifah mendidik anaknya agar hormat kepada guru.
Adab murid kepada sesama murid
·      menghormati dan memuliakan sesama murid dengan tulus dan ikhlas
·      hendaknya memberikan nasehat kepada sesama murid dengan kerendahan hati dan bebas dari kesombongan ( amar ma’ruf nahi munkar )
·      selalu berbaik sangka kepada sesama murid dan tidak mencari-cari keburukan mereka
·      tidak menyakiti hati sesama murid
·      hendaknya menerima permintaan maaf sesama murid apabila mereka memintanya
·      selalu membantu sesama murid dalam suka maupun duka
·      bersikap rendah hati dan santun kepada sesama murid
·      tidak meminta menjadi pemimpin mereka, hanya menjadi sesama saudara dengan mereka
·      lapang dada dalam perbedaan pendapat yang mungkin terjadi di antara sesama murid

 Adab murid kepada pelajaran
·      niat yang ikhlas karena Allah ketika memulai belajar
·      diniatkan bahwa belajar ( menuntut ilmu ) itu untuk menghilangkan kebodohan diri dan orang lain di lingkungannya
·      menghormati dan memuliakan buku pelajaran ( kitab ) dengan tulus dan ikhlas
·      menjaga kebersihan dan kerapihan buku pelajaran ( kitab )
·      meletakkan buku pelajaran ( kitab ) di tempat yang baik dan terhormat
·      tekun dan kontinyu dalam memahami pelajaran ( ilmu )
·      membiasakan diri menghafal pelajaran dan menjaga hafalan
·      selalu menulis atau mencatat pelajaran ( ilmu ) yang diperoleh
·      meneliti sumber dan isi pelajaran ( ilmu ) yang ada dalam buku atau kitab
·      bersikap adil terhadap isi pelajaran ( ilmu ) yang ada dalam buku atau kitab
·      menjauhkan sifat malu yang berlebihan dalam proses memahami suatu pelajaran atau ilmu
Semoga ilmu yang kita miliki dapat bermanfaat, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga bermanfaat untuk orang lain. Oleh karena itu, hendaknya kita berusaha untuk selalu berbuat baik, memperhatikan adab dan berakhlak mulia. Insya Allah.... ilmu yang kita miliki dapat menyelamatkan kita di kemudian hari. Jika penuntut ilmu tidak memperhatikan bahkan meninggalkan adab dan akhlak, maka amal dan ilmunya tidak akan mendapatkan barokah dari Allah.

Thursday, 23 March 2017

NASEHAT IMAM SYAFI'I KEPADA MURIDNYA YUSUF BIN ABDUL A'LA

NASEHAT IMAM SYAFI'I 
KEPADA YUNUS BIN ABDUL A'LA

Yunus bin Abdul A’la, salah seorang murid Imam asy-Syafi’i, pernah berbeda pendapat dengan sang guru dalam satu permasalahan di tengah ia belajar di masjid. Kemudian berdirilah Yunus sambil marah dan meninggalkan pelajaran lalu pulang ke rumahnya.

Malam pun tiba, Yunus mendengar suara pintu rumahnya diketuk orang. “Siapa?” Tanya Yunus.

“Muhamad bin Idris,” kata yang mengetuk pintu.

Pikiran Yunus menerawang pada siapa saja yang bernama Muhammad bin Idris (karena banyak), kecuali satu yang tak terlintas yakni asy-Syafi’i. Saat pintu dibukanya, Yunus terkaget luar biasa, “Ternyata Imam Syafi’i!” batin Yunus.

Kemudian Imam Syafi’i berkata, “Hai Yunus, ratusan masalah menyatukan kita, apakah hanya gara-gara satu masalah kita berpisah? Janganlah engkau berupaya untuk selalu menang dalam setiap perbedaan, karena memenangkan hati lebih utama daripada memenangkan sikap. Jangan kau hancurkan jembatan yang sudah kau bangun dan kau seberangi. Karena bisa jadi engkau membutuhkannya untuk kembali di satu hari nanti.”

Lanjut Imam asy-Syafi’i, “Upayakan engkau selalu membenci kesalahan, bukan membenci pelakunya. Marahlah engkau pada maksiat, tapi maafkan pelakunya. Kritiklah pendapat orang, namun hormati yang mengatakannya. Kepentingan kita dalam kehidupan ini adalah mengalahkan penyakit, bukan menghakimi orang sakit.”

“Jika orang datang minta maaf, berilah maaf. Kalau engkau didatangi orang bingung, diamlah untuk kebaikannya. Jika orang butuh datang padamu, berilah ia dari sebagian apa yang Allah beri untukmu. Bila ada yang datang menasihatimu, berterimakasihlah kepadanya. Meskipun engkau hanya memanen duri di satu hari, tetaplah kau tanam bunganya dan jangan pernah ragu. Karena balasan dari Dzat Yang Mahakasih dan Mahamulia jauh lebih mulia daripada balasan dari manusia,” pungkas  Imam asy-Syafi’i.

Wallahu a'lam bisshowab

SHALAWAT UNTUK BERTEMU RASULULLAH SAW DALAM MIMPI

:: Shalawat utk bertemu dengan Rasulullah SAW Ijazah dari Syeikh Nazhim Al Haqqani ::


Daruud Syifaa’ untuk Bertemu dengan Nabi ﷺ di dalam Mimpi 

(Dibaca terus hingga Anda Tertidur)


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى رُوحِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْأَرْوَاحِ وَعَلَى جَسَدِهِ فِي الْأَجْسَادِ وَعَلَى قَبْرِهِ فِي القُبُورِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
Allâhumma shalli `ala rûhi Sayyidina Muhammadin fil-arwâhi wa `ala jasadihi fil-ajsâdi wa `ala qabrihi fil-qubûri wa `ala âlihi wa shahbihi wa sallim.
Ya #Allah, limpahkanlah rahmat kepada ruh Nabi Muhammad di antara semua ruh, kepada jasadnya di antara semua jasad, dan kepada kuburnya di antara semua kubur dan limpahkanlah pula rahmat dan keselamatan kepada keluarga dan sahabatnya. (Dala'il al-Khayrat hari Rabu)

Imam Sya’arani (qaddas Allahu sirrah) meriwayatkan bahwa #Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang bershalawat dengan cara seperti ini akan bertemu denganku di dalam mimpi, dan barang siapa yang bertemu dengan di dalam mimpi, ia akan bertemu denganku di Yawmil Hisab, dan barang siapa yang bertemu denganku di Yawmil Hisab, aku akan memberi syafaat padanya, dan barang siapa yang mendapatkan syafaatku, ia akan minum dari telagaku, Hawdh al-Kawtsar di Surga, dan barang siapa yang meminum dari al-Kawtsar ia akan terlindung dari api neraka.
Imam Sya’arani (qaddas Allahu sirrah) #berkata, “Aku harus membacanya,” dan aku membacanya sebelum tidur dan terus membacanya sampai aku tertidur. Aku melihat bulan dan melihat wajah Nabi ﷺ yang mulia, dan aku berbicara dengan beliau. Kemudian ghaba fi’l-qamar, aku merasa beliau berada di bulan hingga beliau menghilang. Aku berdoa kepada Allah ﷻ demi shalawat ini, agar Dia memberikan seluruh nikmat yang Ia berikan, bukannya nikmat yang biasa, tetapi nikmat yang Ia berikan kepada Sang Kekasih-Nya, Sayyidina Muhammad ﷺ, yang Ia janjikan kepada setiap mu’min, dan aku merasa bahwa aku telah mendapatkannya. (Afdhal ash-Shalawat, halaman 58). 

DIANTARA CIRI UTAMA AHLI SUNNAH WAL JAMAAH ADALAH BANYAK BERSHALAWAT KEPADA BAGINDA NABI SAW.

Banyak Shalawat Adalah Tanda Utama Ahlussunnah Wal Jamaah

Suatu ketika seseorang lelaki datang pada imam Ali bin Husayn bin Ali(cicit dari baginda Rasul sallahualaihi wasalam) yang terkenal dengan julukan zaynal abidin.
Lelaki itu berkata, Ya Imam, Nabi umat islam berkata bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan...yang manakan yang benar." Imam menjawab,"Yang menggambarkan dirinya sebagai "Ahl Sunnah yaitu islam tradisional"
lelaki itu adalah seorang yg bijaksana, sehingga dia bertanya lebih jauh mengenai jawaban sang imam " namun pasti akan banyak diantara mereka yang mengklaim sebagai Ahl sunna.." untuk pernyataan itu imam Ali bin Husayn berkata "kelompok yang membaca banyak shalawat untuk NabiyAllah adalah di jalan yang benar"
"Memperbanyak salawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah salah satu ibadah dan ketaatan yang paling utama. Hal ini merupakan anjuran Qur'an dan Sunnah.
Diriwayatkan oleh sahabat Ubay bin Ka'ab, beliau berkata: Wahai Rasulullah, saya ingin banyak bersalawat, maka tuntunlah saya, sebarapa banyak saya boleh bersalawat kepada engkau?. Rasululullah ﷺ menjawab: sesuai kehendakmu.
Aku berkata: Bolehkah seperempat hariku diisi dengan salawat?
Nabi ﷺ menjawab: Sesuai kehendakmu. Namun, lebih banyak lebih baik.
Aku berkata: Bagaimana jika setengah hariku?
Nabi ﷺ menjawab: Sesuai kehendakmu. Namun, lebih banyak lebih baik.
Aku berkata: Bagaimana jika dua pertiga hariku?
Nabi ﷺ menjawab: Sesuai kehendakmu. Namun, lebih banyak lebih baik.
Aku berkata: Kalau begitu saya akan isi seluruh hari dan hidupku untuk bersalawat.
Nabi ﷺ menjawab: Jika itu yang kamu lakukan, maka Allah akan hilangkan kesusahanmu dan hapus dosamu.(HR: At Tirmidzi)
Para ulama berkata: Angka minimal memperbanyak salawat adalah 1000 kali. Ada yang berpendapat: 300 kali. Namun yang pasti adalah: bahwa sebanyak apapun seseorang bersalawat maka angka itu tetap sedikit jika melihat kepada keagungan dan ketinggian derajat Nabi ﷺ di sisi Allah.
Intinya, banyak bersalawat adalah tanda utama yang membedakan Ahlussunnah Wal Jamaah dari golongan lain sepanjang masa.

Tuesday, 6 December 2016

KISAH PERJALANAN HIDUP TOKOH SUFI TERKEMUKA



KISAH PERJALANAN HIDUP TOKOH SUFI TERKEMUKA


Di bawah ini adalah daftar nama para sufi yang diambil dari Kitab Tadzkirotul Auliya ( Warisan Para Auliya) Karya Fariduddin Attar. Sebenarnya masih banyak lagi nama-nama para sufi yang terkenal, namun secara pelan-pelan kami akan memuatnya satu persatu sedaya yang kami bisa. Fariduddin Attar sendiri sebenarnya adalah termasuk kaum sufi juga, dan menurut suatu riwayat, beliau terbunuh ketika kaum mongolia menjajah negeri Irak. Di kesempatan lain kami juga berencana mengusung artikel mengenai tokoh pengarang kitab ini, supaya lebih lengkap.
Berikut ini adalah nama-nama tokoh sufi yang terdapat pada kitab Tadzkirotul Auliya karangan Fariduddin Attar. Silahkan Klik daftar nama sufi yang ingin anda baca:
1. Hasan Al Bashri
Hasan bin Abil Hasan al-Bashri lahir di kota Madinah pada tahun 21H/642. Ia adalah putera dari seorang budak yang ditangkap di Maisan, kemudian menjadi klien dari sekretaris Nabi Muhammad, Zaid bin Tsabit. Karena dibesarkan di Bashrah ia bsia bertemu dengan banyak sahabat Nabi, antara lain — seperti
yang dikatakan orang — dengan tujuh puluh sahabat yang turut dalam Perang Badar. Hasan tumbuh menjadi seorang tokoh di antara tokoh yang paling terkemuka pada zamannya. Dan ia termasyhur karena kesalehannya yang teguh, dan secara blak-blakan membenci sikap kalangan atas yang berfoya-foya. Sementara teolog-teolog dari kalangan Mu’tazilah memandang Hasan sebagai pendiri gerakan mereka (“Amr bin ‘Ubaid dan Wasil bin Atha” terhitung sebagai muridnya),
didalam higografi sufi, ia dimuliakan sebagai salah seorang di antara tokoh-tokoh suci yang terbesar pada masa awal sejarah Islam. Hasan meninggal di kota Bashrah pada tahun 110H/728 M. Banyak pidato-pidatonya — memang ia adalah seorang yang cemerlang – dan ucap-ucapannya  dikutip oleh penulis-penulis bangsa Arab dan tidak sedikit di antara surat-suratnya yang masih dapat kita saksikan hingga sekarang.

HASAN DARI BASHRAH BERTAUBAT
Pada mulanya Hasan dari Bashrah adalah seorang pedagang batu permata, karena itu ia dijuluki Hasan si pedagang mutiara. Hasan mempunyai hubungan dagang dengan Bizantium, karena itu ia berkepentingan denga para Jenderal dan  Menteri Kaisar, dalam sebuah peristiwa ketika bepergian ke Bizantium, hasan mengunjungi Perdana Menteri dan mereka berbincang-bincang beberapa saat.
“Jika engkau suka, kita akan pergi ke suatu tempat”, si menteri mengajak Hasan.
“Terserah kepadamu,” jawab Hasan, “Ke mana pun aku menurut.” Si menteri memerintahkan agar disediakan seekor kuda untuk Hasan.
Si menteri naik ke punggung kudanya, Hasan pun melakukan hal yang serupa, setelah itu berangkatlah mereka menuju pdang pasir. Sesampainya di tempat tujuan, Hasan melihat sebuah tenda yang terbuat dari brokat Bizantium, diikat dengan tali sutra dan di pancang dengan tiang emas di atas tanah. Hasan berdiri di jejauhan.
Tak berapa lama kemudian muncul lah sepasukan tentara perkasa dengan perlengkapan perang yng sempurna. Mereka lalu mengelilingi tenda itu, ia meggumamkan beberapa patah kata kemudian pergi. Setelah itu muncul para filosof dan cerdik pandai yang hampir empat ratus orang jumlahnya. Mereka mengelilingi tenda itu, menggumamkan beberpa patah kata kemudian berlalu dari tempat itu.
Datang lagi tigaratus orang-rang tua yang arif bijak sana dan berjanggut putih, mereka menghampiri dan mengelilingi tenda itu, lalu menggumamkan beberapa patah kata, kemudian berlalu, Akhirnya datang pula lebih dari dua ratus perawan cantik masing-masing mengusung nampan penuh dengan emas, perak dan batu permata, mereka mengelilingi tenda itu dan menggumamkan beberapa patah kata
kemudian pergi meniggalkannya. Hasan mengissahkan betapa ia sangat heran menyaksikan kejadian-kejadian itu dan bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah artinya semuanya itu? “Ketika kami meninggalkan tempat itu”, Hasan meneruskan kisahnya,
“Aku bertanya kepada si perdana menteri, Si perdana menteri menjawab bahwa dahulu Kaisar mempunyai seorang putera yang tampan, menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan dan tak terkalahkan di dalam arena kegagah perkasaan. Kaisra
sangat sayang kepada puteranya itu. Tanpa terduga-duga, si pemuda jatuh sakit. Semua tabib paling ahli sekalipun tidak mampu menyembuhkan penyakitnya.
Akhirnya si pemuda putera mahkota itu meninggal dan dikuburkan di bawah naungan tenda tersebut. Setiap tahun orang-orang datang berziarah ke kuburannya”.
Sepasukan tentara yang mula-mula mengelilingi tenda tersebut berkata : “Wahai putera mahkota, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini terjadi di medan pertempuran, kami semua akan mengorbankan jiwa raga kami untuk menyelamatkanmu. Tetapi malapetaka yang menimmpamu ini datang dari Dia yang tak sanggup kami perangi dan tak dapat kami tantang”. Setelah berucap seperti itu mereka pun berlalu dari tempat itu.
Kemudian tiba lah giliran para filosof dan cerdik pandai. Mereka berkata : Malapetaka yag menimpa dirimu ini datang dari Dia yang tidak dapat
kami lawan dengan ilmu pengetahuan. Filsafat dan tipu muslihat. Karena semua filosof di atas bumi ini tidak berdaya menghadapi-Nya dan semua cerdik pandai
hanya orang-orang dungu di hadapan-Nya. Jika tidak demikian halnya, kami telah berusaha dengan mengajukan dalih-dalih yang tak dapat di pantah oleh siapa pun
di alam semesta ini:. Setelah berucap demikian para filosof dan cerdik pandapi
itu pun berlalu dari tempat tersebut.
Selanjutnya orang-orang tua yang mulia tampil seraya berkata :
“Wahai putera mahkota, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini dapat
dicegah oleh campur tangan orang-orang tua, niscaya kami telah mencegahnya
dengan do’a do’a kami yang rendah hati ini, dan pastilah kami tidak akan
meninggalkan engkau seorang diri di tempat ini. Tetapi malapetaka yang
ditimpakan kepadamu datang dari Dia yang  sedikit pun tak dapat
dicegah oleh campurtangan manusia-manusia yang lemah”. Setelah kata-kata ini
mereka ucapkan merekapun berlalu.
Kemudian dara-dara cantik dengan nampan-nampan berisi emas dan
batu permata datang menghampiri, mengelilingi tenda itu dan berkata : “Wahai
putera Kaisar, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini bisa ditebus
dengan kekayaan dan kecantikan, niscaya kami merelekan diri dan harta kekayaan
kami yang banyak ini untuk menebusmmu dan tidak kami tinggalkan engkau di
tempat ini. Namun mala petaka  ini ditimpakan oleh Dia yang tak dapat
dipengaruhi oleh harta kekayaan dan kecantikan.” Setelah berkata-kata ini
mereka ucapkan, merekapun meninggalkan tempat itu.
Terakhir sekali Kaisar beserta perdana menteri tampil, masuk ke
dalam tenda dan berkata : “Wahai biji mata dan pelita hati ayahanda! Wahai buah
hati ayahanda! Apakah yang dapat dilakukan oleh ayahanda ini? Ayah handa telah
mendatangkan sepasukan tentara yang perkasa, para filosof dan cerdik pandai,
para pawang dan penasehat, dan dara-dara cantik yang jelita, harta benda dan
segala macam barang-barang berharga. Dan ayahanda sendiri pun telah datang.
Jika semua ini ada faedahnya, maka ayahanda pasti melakukan segala sesuatu yang
dapat ayahanda lakukan. Tetapi malapetaka ini telah ditimpakan kepadamu oleh
Dia yang tidak dapat dilawan oleh ayahanda beserta segala aparat, pasukan,
pengawall, harta benda dan barang-barang berharga ini. Semoga engkau
mendapat kesejahteraan, selamat tinggal sampai tahun yang akan datang.”
Kata-kata ini diucapkan sang Kaisar kemudian ia berlalalu dari tempat itu.
Pengisahan si menteri ini sangat menggugah hati Hasan. Ia tidak
dapat melawan dorongan hatinya. Dengan segera ia bersiap-siap untuk kembali ke
negerinya. Sesampainya di kota Bashrah ia bersumpah tidak akan tertawa lagi
di  atas dunia ini sebelum mengetahui dengan pasti bagaimana nasib
yang akan dihadapinya nanti. Ia melakukan segalam macam kebaktian dan disiplin
diri yang tak dapat ditandingi oleh siapa pun pada masa hidupnya.
HASAN DARI BASHRAH DAN
ABU’AMR
Pada suatu  hari, ketikaAbu ‘Amr, seorang ahli tafsir
terkemuka sedang mengajarkan Al-Quran, tak disangka-sangka datanglah seorang
pemuda tampan ikut mendengarkan pembahasanya. Abu ‘Amr terpesona memandang sang
pemuda dan secara mendadak lupalah ia akan setiap kata  dan huruf
dalam Al Quran. Ia sangat menyesal dan gelisah karena perbuatannya itu. Dalam
keadaan seperti ini pegilah ia mengunjungi Hasan dari Bashrah untuk mengadukan
kemasygulan hatinya itu.
“Guru.” Abu ‘Amr berkata sambil menangis dengan sedih, “Begitulah
kejadiannya. Setiap kata dan huruf Al-Quran telah hilang dari ingatanku.”
Hasan begitu terharu mendengar keadaan Abu ‘Amr.
“Sekarang ini adalah musim haji.” Hasan berkata kepadanya.
“Pergilah ke Tanah Suci dan tunaikan ibadah haji. Sesudah ituu pegilah ke  Masjid
Khaif. Di sana engkau akan bertemu denga seorang tua. Jangan engkau langsung menegusnya
tetapi tunggulah sampai keasyikannya beribadah selesai. Setelah itu berulah
engkau mohonkan agar ia mau berdoa untukmu.”
Abu ‘Amr menuruti petuah Hasan. Di pojok ruangan masjid Khaif, Abu
‘Amr melihat seorang tua yang patutu dimuliakan dan beberapa orang yang duduk
mengelilingi dirinya. Beberapa saat kemudian masuklah seorang lelaki yang
berpakaian putih bersih. Orang-orang itu memberi jalan kepadanya. Mengucapkan
salam dan setelah itu mereka pun berbincang-bincang dengan dia. Ketika waktu
shalat telah tiba, lelaki tersebut minta diri untuk meninggalkan tempat itu.
Tidak berapa lama kemudian yang lain-lainnya pun pergi ula, sehingga yang
tinggal di tempat itu hanyalah si orang tua tadi.
Abu ‘Amr menghampirinya dan mengucapkan salam.
“Dengan Nama Allah, tolonglah diriku ini,” Abu ‘Amr berkata sambil
menangis. Kemudian menerangkan dukacita yang menimpa dirinya. Si orang tua
sangat prihatin mendengar penuturan Abu ‘Amr tersebut, lalu menegadahkan kepala
dan berdoa. “Belum lagi ia merendahkan kepalanya,” Abu ‘Amr mengisahkan, “Semua
kata dan huruf Al Quran telah dapat ku ingat kembali. Aku bersujud di depannya
karena begitu syukurnya.”
Siapa yang telah menyuruhmu untuk menghadap kepada ku?” Kata orang
tua itu bertanya kepada Abu ‘Amr.
“Hasan dari Bashrah,” Jawab Abu ‘Amar.
“Jika seseorang telah mempunyai imam seperti Hasan.” Lelaki tua
tersebut berkomentar,’ mengapa ia memerlukan imam yang lain? Tapi baiklah,
Hasan telah menunjukan siapa diriku ini dan kini akan ku tunjukan siapakah dia
sebenarnya. Ia telah membuka selubung diriku dan kini ku buka pula selubung
dirinya,” Kemudian orang tua itu meneruskan, “Lelaki yang berjubah putih tadi,
yang datang ke sini setelh waktu shalat ‘Ashar, dan yang terlebih dahulu
meninggalkan tempat ini serta dihormati orang-orang lain tadi, ia adalah Hasan.
Setiap hari setelah melakukan Shalat ‘Ashar di Bashrah ia berkunjung ke
sini, berbincang-bincang bersamaku, dan kembali lagi ke Bashrah untuk shalat
Maghrib di sana. Jika seseorang telah mempunyai imam seperti Hasan, mengapa ia
masih merasa perlu memohonkan doa dari diriku ini?”
HASAN DARI BASHRAH DAN
PENYEMBAH API
Hasan mempunyai tetangga yang bernama Simeon, seorang penyembah
api. Suatu hari Simeon jatuh sakit dan ajalnya hampir tiba. Sahabat-sahabat
meminta agar Hasan sudi mengunjunginya,. Akhirnya Hasan pun pergi mendapatkan
Simeon yang terbaring di atas tempat tidur dan badannya telah kelam karena api
dan asap.
“Takutlah kepada Allah,” Hasan menaseharkan, “Engkau telah menyia-nyiakan seluruh usiamu di tengah-tengah api dan asap.”
“Ada tiga hal yang telah mencegahku untuk menjadi seorang Muslim,”jawab Simeon penyembah api. “Yang pertama adalah kenyataan bahwa walaupun
kalian membenci keduniawian, tapi siang dan malam kalian mengejar harta kekayaan. Yang kedua, kalian mengatakan bahwa mati adalah suatu kenyataan yang
harus dihadapi, namun kalina tidak bersiap-siap untuk menghadapinya. Yang
ketiga, kalian mengatakan bahwa wajah Allah akan terlihat, namun hingga saat ini kalian melakukan segala sesuatu yang tidak di ridhai-Nya.”
Inilah ucapan dari manusia-manusia yang sungguh-sungguh mengetahui,” jawab Hasan. “Jika orang-orang Muslimberbuat seperti yang engkau
katakan, apa pulakah yang hendak engkau katakan? Mereka mmengakui keesaan Allah
sedang engaku menyembah api selama tujuh puluh tahun, dan aku tak pernah
berbuat seperti itu. Jika kita sama-sama terseret ke dalam neraka, api neraka
akan membakar dirimu dan diriku, tetapi jika diizinkan Allah, api tidak akan
berani menghanguskan sehelai rambut pun pada tubuhku. Hal ini adalah karena api
diciptakan Allah dan segala ciptaan-Nya tunduk kepada perintah-Nya. Walau pun
engkau menyembah api selama tujuh puluh tahun, marilah kita bersama-sama
menaruh tangan kita ke dalam api agar engkau dapat menyaksikan sendiri betapa
api itu sesunggunya tak berdaya da betapa Allah itu Maha Kuasa.”
Setelah berrkata demikian Hasan memasukan tangannya ke dalam api.
Namun sedikitpun ia tidak cedera atau terbakar. Menyaksikan hal ini Simeon
terheran-heran. Fajar pengetahuan terlihat olehnya.
“Selama tujuh puluh tahun aku telah menyembah api,” mengeluh
Simeon, “kini hanya dengan satu atau dua helaan nafas ssaja yang tersisa,
apakah yang harus ku lakukan?”
“Jadilah seorang Muslim,” jawab Hasan.
“Jika engkau memberiku sebuah jaminan tertulis bahwa Allah tidak
akan menghukum diriku,” kata Simeon, “Barulah aku menjadi Muslim. Tanpa jaminan
itu aku tidak sudi memeluk agama Islam.”
Hasan segera membuat surat jaminan.
“Kini susullah orang-orang yang jujur di kota Bashrah untuk
memberikan kesaksian mereka di atas surat jaminan tersebut. Simeon mencucurkan
air mata dan menyatakan dirinya sebagai seorang Muslim. Kepada Hasan ia
sampaikan wasiatnya yang terakhir, “Setelah aku mati, mandikanlah aku dengan
tanganmu sendiri, kuburkanlah aku dan selipkan surat jaminan ini di tanganku.
Surat ini akan menjadi bukti bahwa aku adalah seorang Muslim.”
Setelah berwasiat demikian ia mengucap dua kalimah syahadat dan
menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mereka memandikan mayat Simeon,
mendhalatkannya dan menguburkannya dengan sebuah surat jaminan di tangannya.
Malam harinya Hasan pergi tidur sambil merenungi apa yang telah dilakukannya
itu. “Bagaimana aku dapat menolong seseorang yang sedang tenggelam sedang aku
sendiri dalam keadaan yang serupa. Aku sendiri tidak dapat menentukan nasibku,
tetapi mengapa aku berani mematikan apa yang akan dilakukan oleh Allah?”
Dengan pikiran-pikiran seperti ini Hasan terlena. Ia bermimpi
bertemu dengan Simeon, wajah Simeon cerah dan bercahaya seperti sebuah pelita;
di kepalanya terlihat sebuah mahkota. Ia mengenakan sebuah jubah yang indah dan
sedang berjalan-jalan di taman surga.
“Bagaimana keadaanmu Simeon?” tanya Hasan kepadanya.
“Mengapakah engkau bertanya padahal engkau menyaksikan sendiri?”
jawab Simeon. “Allah Yang Maha Besar dengan segala kemurahan-Nya telah
menghampirkan diriku kepada-Nya dan telah memperlihatkan wajah-Nya kepadaku.
Karunia yag dilimpahkan-Nya kepdaku melebihi segala kata-kata. Engkau telah
memberiku sebuah surat jaminan, terimalah kembali surat jaminan ini karena aku
tidak membutuhkannya lagi.”
Ketika Hasan terbangun, ia mendapatkan surat jaminan itu telah
berada di tangannya. “Ya Allah,” Hasan berseru, “aku menyadari bahwa segala
sesuatu yng Engkau lakukan adalah tanpa sebab kecuali karena kemurahan-Mu
semata. Siapa yang akan tersesat di pintu-Mu? Engkau telah mengizinkan seseorang yang telah menyembah api tujuh puluh tahun lamanya untuk menghampiri-Mu,
semata-mata karena sebuah ucapan. Betapakah Engkau akan menolak seseorang yang
telah beriman selama tujuh puluh tahun?”
Sumber: Kisah ini diambil dari Kitab “Tadzkiratul Auliya”, “Warisan Para Auliya (terjemah)” Karya Fariduddin Attar.
2. Malik bin Dinar
3. Habib al-‘Ajami
4. Rabi’ah al-Adawiyah
5. Al-Fuzail bin Iyaz
6. Ibrahim bin Ad-ham
7. Bisyr bin Harits
8. Dzun Nun al-Mishri
9. Abu Yazid al-Busthami
10. Abdullah bin Mubarak
11. Sofyan ats-Tsauri
12. Syaqiq al-Balkh
13. Daud ath-Tha’i
14. Al Muhasibi
15. Ahmad bin Harb
16. Hatim al-Asham
17. Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari
18. Ma’ruf al-Karkhi
19. Sari  as-Saqathi
20. Ahmad bin Khazruya
21. Yahya bin Mu’adz
22. Syah bin Syuja’
23. Yusuf bin al-Husain
24. Abu Hafshin al-Haddad
25. Abul Qasim al-Junaid ( Junaid Al-Baghdadi)
26. Amr bin ‘Utsman
27. Abu Sa’id al-Kharraz
28. Abul Husain an-Nuri
29. Abu ‘Utsman al-Hiri
30. Ibnu Atha’
31. Sumnun
32. At-Tirmidzi
33. Khair an-Nassaj
34. Abu Bakar al-Kattani
35. Ibnu Khafif
36. Al-Khallaj
37. Ibrahim al-Khauwah
38. Asy-Syibli

Sumber : Kisahteladan.web.id

Saturday, 3 December 2016

SEJARAH PEMBACAAN MAHALLUL QIYAM (Berdiri) DALAM ACARA MAULID NABI SAW

Sejarah Pembacaan Mahallul Qiyaam 
(Berdiri Di Dalam Acara Pembacaan Maulid)

Pembacaan kitab-kitab maulid nabi Muhammad Saw, seperti maulid Ad-Dhiba’i, maulid Al-Barzanji, maulid Simtuddhurar, maulid Adh-Dhiya’ullaami’, dll. telah menjadi kegiatan rutin mayoritas umat Islam Ahlussunnah di seluruh penjuru dunia.

Dan kegiatan ini lebih semarak di bulan Rabi’ul awwal, bulan dimana nabi Muhammad Saw. dilahirkan. Namun ada sebagian kecil umat Islam yang menganggap bahwa kegiatan maulid ini bid’ah yang sesat, karena tidak dilakukan oleh Rasulullah Saw.

Ketahuilah bahwa tidak semua yang tidak dilakukan oleh nabi itu dilarang. Yang dilarang adalah apabila kegiatan itu selaras dengan kaidah-kaidah hukum haram, yaitu yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Akan tetapi apabila kegiatan itu selaras dengan kaidah-kaidah hukum sunnah atau mubah, maka kegiatan itu boleh dilakukan karena tidak bertentangn dengan ajaran agama Islam.

Bahkan bisa jadi yang tidak ada di zaman nabi itu termasuk perbuatan yang dianjurkan untuk dilakukan, karena di dalamnya mengandung pengamalan perintah-perintah Allah dan sunnah-sunnah Rasulillah Saw.

Di akhir pembacaan kitab-kitab maulid, sebelum doa dibacakan semua jama’ah berdiri untuk membaca qasidah (syair-syair pujian kepada baginda nabi Muhammad Saw.) dengan dipimpin oleh salah seorang anggota jama’ah yang memiliki suara paling bagus. Dengan harapan agar makna yang terkandung di daam qasidah itu bisa diresapi, hingga membekas di dalam hati. Banyak air mata-air mata yang tumpah ketika acara mahallul qiyam sedang berlangsung.

Hal ini karena kekhusu’an, ketenangan, kedamaian, dan kenyamanan yang mereka rasakan, seakan-akan menyambut kedatangan baginda Rasulullah Saw.
Timbul pertanyaan dibenak kita, siapakah yang bertama kali melakukanmahallul qiyaam pada acara pembacaan kitab maulid?. Ia adalah Tajuddin As-Subki, seorang ulama ahli hadis yang telah mencapai derajat hujjatul islaam(orang yang telah hafal lebih dari tiga ratus ribu hadis, dengan seluruh sanad dan matannya). Beliau adalah guru yang yang sangat alim dan terkenal di zamannya di seluruh penjuru dunia. Beliau memiliki banyak murid yang kebanyakan mereka telah mencapai derajat huffaazh (orang yang telah hafal lebih dari seratus ribu hadis, lengkap dengan sanad dan matannya).

Pada suatu hari beliau mengajak murid-muridnya dan beberapa ulama teman-teman beliau untuk mengadakan pembacaan qasidah. Ketika qasidah sedang dibacakan, tiba-tiba Syaikh Tajuddin As-Subki memegang tongkatnya dan berdiri. Ketika beliau berdiri seluruh jama’ah ikut berdiri.
Ketika berdiri itulah mereka merasakan kedamaian, kenyamanan, dan kekhusyuan yang dahsyat. Air mata mereka mengalir merindukan nabi Muhammad Saw.
Jadi, yang pertama kali melakukan mahallul qiyaam adalah ulama besar, Hujjatul Islaam Syaikh Tajuddin As-Subki. Beliau adalah ulama yang sederajat dengan Imam An-Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan imam-imam besar yang lain. Semoga kita semua dijaga oleh Allah dari pendapat-pendapat yang tidak benar yang akan menggoyahkan hati dan pikiran kita, sehingga kita tetapi istiqamah untuk mengikuti jejak para ulama salafusshalih, pewaris para nabi.
Amiin ya Rabbal ‘aalamiin.
Sumber : Embunhati.com

NAMA-NAMA PINTU SURGA

:: Nama-Nama Pintu Surga ::
(Sumber Kitab Daqoiqul Akhbar)
Ibnu Abbas ra. berkata: Surga mempunyai 8 pintu yang terbuat dari emas, yang dihiasi dengan jauhar (sejenis mutiara) dan pada pintu yang pertama tertulis kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH MUHAMMADUR RASUULULLAH, yaitu pintu bagi para Nabi dan Rasul, syuhada’ dan juga pintunya orang-orang yang dermawan. Pintu yang kedua yaitu pintu bagi orang-orang yang mendirikan shalat, orang yang menyempurnakan wudhunya dan orang yang menyempurnakan rukun-rukun shalatnya. Pintu yang ketiga yaitu pintu bagi orang-orang yang memberikan zakatnya dengan senang hati dan ikhlas. Pintu yang keempat yaitu pintu bagi orang-orang yang memerintahkan kepada kebajikan dan mencegah terhadap perbuatan munkar. Pintu yang kelima yaitu pintu bagi orang-orang yang dapat memelihara syahwatnya dan mencegah dari nafsu yang buruk. Pintu yang keenam yaitu pintu bagi orang-orang yang melaksanakan haji dan umrah. Pintu yang ketujuh yaitu pintu bagi orang-orang yang berjihad (dijalan Allah). Dan pintu yang kedelapan yaitu pintu bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang yang memejamkan matanya dari perbuatan dan sesuatu yang haram, orang-orang yang melakukan kebaikan, diantaranya: berbuat baik kepada orang tua, mempererat tali persaudaraan (silaturrahim) dan lain sebagainya.
Surga ada 8 (delapan)macam:
1.Darul Jalal yaitu surga yang terbuat dari mutiara putih.
2.Darus Salam yaitu surga yang terbuat dari yaqut merah.
3.Jannatul Ma’wa yaitu surga yang terbuat dari zabarjud hijau.
4.Jannatul Khuldi yaitu surga yang terbuat dari marjan yang berwarna merah dan kuning.
5.Jannatun Na’im yaitu surga yang terbuat dari perak putih.
6.Jannatul Firdaus yaitu surga yang terbuat dari emas merah.
7.Jannatul ‘Adn yaitu surga yang terbuat dari intan putih.
8.Darul Qarar yaitu surga yang terbuat dari emas merah.
Darul Qarar adalah surga yang paling utama dibandingkan dengan surga yang lain. Surga ini mempunyai dua pintu dan dua daun pintu, satu daun pintu terbuat dari emas, dan yang satunya terbuat dari perak. Jarak setiap pintu adalah sebagaimana jarak antara bumi dan langit. Adapun bangunan yang ada didalamnya terbuat dari bata emas dan bata perak, tanahnya dari misik, debunya dari anbar, rumputnya dari za’faran, istana-istananya terbuat dari mutiara, punggungnya dari yaqut dan pintunya dari jauhar.
Didalam surga ini terdapat sungai yang namanya sungai Rahmat yaitu sungai yang mengalir keseluruh surga, kerikil-kerikilnya dari mutiara yang sangat putih, lebih putih dari embun dan lebih manis dari madu.
Didalam surga terdapat sungai yang bernama Sungai Kautsar yaitu sungai Nabi kita Muhammad Saw. pohon-poinnya terbuat dari intan dan yaqut. Didalam surga juga terdapat sungai Kafur, sungai Tasnim, sungai Salsabil, sungai Rahiqul Makhtum dan dibelakang sungai-sungai ini terdapat sungai-sungai lain yang tidak terhitung jumlahnya.
Diriwayat Nabi Saw. beliau bersabda: “Pada malam aku dijalankan (isra’) ke langit, telah diperlihatkan kepadaku seluruh surga, maka aku melihat empat sungai, yang pertama sungai dari air yang tidak berubah warnanya, kedua sungai dari susu yang tidak pernah berubah rasanya, dan ketiga sungai dari arak dan yang keempat sungai dari madu yang sangat bening.” Sebagaimana firman Allah Swt.:
“Yang didalamnya terdapat sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamer yang lezat rasanya bagi orang yang meminumnya dan sungai-sungai dari madu yang bersih dan jernih.” (Qs. muhammad: 15).
Maka aku tanyakan keada Malaikat Jibril as.: “Darimanakah datangnya sungai-sungai ini dan kemana mengalirnya? ” Maka Malaikat Jibril as. menjawab: “Sungai itu mengalir ke telaga kautsar dan aku tidak tau dari mana asalnya, maka tanyakanlah kepada Allah agar Dia memberi tau dan memperlihatkan kepadamu.” Maka berdoalah Nabi Muhammad kepada Allah Swt. Kemudian datanglah seorang malaikat kepada beliau dan memberi salam, seraya berkata:”Wahai Muhammad, pejamkanlah kedua matamu” Maka aku pejamkan mataku, lalu ia berkata:”Bukalah kedua matamu” maka aku buka kedua mataku, tiba-tiba aku berada dibawah pohon dan aku melihat kubah dari intan putih yang memiliki pintu-pintu dari yaqut hijau dan kunci-kuncinya dari emas merah. Andaikata semua makhluk yang ada didunia baik jin atau manusia berhenti diatas kubah itu, sungguh mereka hanya seperti burung yang hinggap diatas gunung. Maka aku melihat empat sungai itu mengalir dari kubah itu. Ketika aku ingin kembali malaikat tadi berkata kepadaku: “Kenapa engkau tidak masuk kedalam kubah itu?” aku menjawab:”Bagaimana aku bisa memasukinya, sedangkan pintu-pintunya tertutup.” Dia berkata:”Bukalah dia” Aku bertanya:”Bagaimana aku harus membukanya?” Lalu dia berkata:”Kuncinya berada ditanganmu” Aku berkata:”Apa kuncinya?” Dia menjawab:”Yaitu lafazh BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIM” maka terbukalah pintu itu lalu aku masuk kedalamnya. Maka aku melihat sungai-sungai itu mengalir dari empat tiang kubah. Ketika aku hendak keluar, maka malaikat itu berkata kepadaku:”Apakah engkau telah melihat dan mengetahuinya? ” Aku menjawab:”Ya” Malaikat itu berkata kepadaku: “Lihatlah sekali lagi.” Ketika aku melihatnya, maka tertulis diatas empat kubah tersebut lafazh BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIM Aku melihat sungai air itu keluar dari huruf Mim-nya lafazh BISMI, sungai susu keluar dari huruf Ha’-nya lafazh Allah, sungai arak (khamer) keluar dari Mim-nya lafazh RAHMAN, dan sungai madu keluar dari Mim-nya lafazh RAHIM. Maka aku baru mengerti bahwa asalnya sungai-sungai tersebut adalah dari lafazh Basmalah. Kemudian Allah Swt. berfirman: “Wahai Muhammad, barang siapa yang mengingat-Ku dengan nama ini dari golongan umatmu dengan hati tulus (ikhlas) lafazh BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM maka aku beri dia minum dari empat sungai ini.”
Kemudian Allah memberi minum kepada ahli-ahli surga itu dengan air surga pada hari sabtu, memberi minum dengan madu surga pada hari ahad, memberi minum dengan susu surga pada hari senin, dan memberi minum dengan arak pada hari selasa. Disaat mereka minum, mabuklah mereka lalu terbanglah ahli surga itu selama seribu tahun hingga mereka berhenti pada suatu gunung yang besar yang terbuat dari kasturi yang harum semerbak baunya dan sungai Salsabil mengalir dibawahnya. Maka minumlah mereka pada sungai itu tepat pada hari rabu.
Kemudian terbanglah mereka selama seribu tahun hingga berhenti pada suatu istana yang indah, didalamnya terdapat ranjang-ranjang yang tinggi, dan beberapa gelas yang sudah disediakan sebagaimana yang sudah diterangkan dalam Al-Quran. Maka duduklah setiap orang dari mereka diatas ranjang, lalu datanglah pada mereka minuman Zanzabil kemudian mereka meminumnya tepat pada hari kamis.
Setelah itu mereka dihujani oleh awan yang putih selama seribu tahun, sehingga mereka sampai ketempat duduknya orang yang benar, pada hari itu tepat pada hari jumat, mereka duduk diatas hidangan yang kekal abadi dan turunlah pada mereka minuman Rahiqul Makhtum, yang ditutupi dengan misik. Kemudian mereka membuka tutup tersebut dan mereka meminumnya.
Nabi Saw. bersabda: “Mereka itulah orang-orang yang melakukan kebaikan dan menjauhi perbuatan maksiat”

JEJAK SEJARAH MURSYID THORIQOH AT-TIJANI SYEKH MUHAMMAD BIN YUSUF

  "Jejak Histori Syekh Muhammad bin Yusuf sukodono - Ampel Surabaya, abahny a KH Ubaid dan KH Zaid, salah satu pembawa Thoriqoh At-Tija...